Masa Lalu Telah Kembali
|
N
|
ama ku
Chassaff Quinsha. Aff sebutan ku tetapi teman-teman ku biasa memanggil dengan
nama ‘Quin’ karena mereka bilang wajah ku yang cantik bak seorang ratu,
berlebihan memang tapi aku syukuri saja. Saat ini aku kuliah di salah satu
universitas terkenal di Prancis semester empat.
Sudah hampir dua tahun ku meninggalkan kota Yogyakarta tercinta
dengan banyak alasan salah satunya karena aku lebih memilih melanjutkan kuliah
di Prancis yaitu pendididikan nya yang terjamin. Sudah hampir dua tahun juga ku tak bisa melupakannya, orang yang ku
sayang hilang entah kemana setelah kecelakaan menimpanya. Tim investigasi tidak
bisa menumukan jasad nya, ia diduga hilang hayut di sungai karena memang saat
itu aliran sungai sedang deras. Perasaan bersalah selalu menyelimuti ku, jika saja
aku tidak mengajak nya bertemu pasti hal itu tidak terjadi pada nya, “kenapa
kamu mengajak nya pergi aff” “kenapa kau mengajak nya pergi aff, kenapaaaa”,
kata-kata itu selalu muncul di benak ku seolah ada seseorang yang membisikkan
nya pada ku. Pada malam itu tak ku sangka, pertemuan itu menjadi pertemuan
terakhir ku dengan nya, aku selalu menyesali pertemuan itu pertemuan terakhir
yang membuat ku tidak bisa melihat senyum, canda, tawa nya untuk selamanya.
Dimana kauuu.... dimanaaa??? Apakah kau sudah benar-benar tiada atau kau masih
hidup tapi dimana???
“Aff”, lamunan ku buyar seketika, sahabat ku Geisha datang
menghampiri ku. Dia tahu bahwa aku sedang melamun dan memikirkan hal itu lagi,
dia pun berusaha menghibur ku tapi ya itu dengan gaya nya yang jahil tapi itu
selalu berhasil membuat ku tersenyum kembali. Geisha memang seorang sahabat
yang mengerti keadaan ku, dia juga mahasiswi yang berasal dari Indonesia sama
seperti ku jadi kalau aku cerita ke dia tidak harus susah memakai bahasa
Prancis, hehe. Tetapi satu yang tidak terlalu ku sukai dalam dirinya, ia selalu
memanggil ku dengan nama ‘Aff’ jika ia melihat ku sedang melamun, yah semenjak aku
kehilangan nya aku lebih suka dipanggil ‘Quin’ daripada ‘Aff’, karena nama itu
selalu membuat ku teringat padanya.
Kami selalu duduk berdua di sudut taman kota Paris, memandang indah
nya lukisan Tuhan dan berharap ia kembali. Langit berwarna orange pertanda hari
esok akan segera tiba, kami masih sibuk menertawakan kejadian tadi siang di
kampus yang menimpa teman sekelas ku, dia beniat melemparkan botol ke arah aku
dan Geisha tapi tiba-tiba dosen kami muncul, Mr. Alfonse, kami langsung saja
kabur dan tak tahu nasib nya bagaimana. Sudah puas kami menertawakan nya, perut
Geisha berbunyi merdu, ia mengajak ku makan sebelum kembali ke asrama.
Saat kaki ku melangkah memasuki sebuah rumah makan, mata ku tak
sengaja melihat ke arah samping bangunan itu, aku tak percaya dengan apa yang
ku lihat tetapi saat aku ingin melihat nya lagi dia sudah lenyap, ku coba
mendekati sudut itu tapi benar dia sudah menghilang. Tubuh ku berdiri kaku, ‘apakah
aku tidak salah lihat? dia masih hidup?’. Geisha memanggilku, “Quin! Ayo masuk!
Apa yang kamu lihat? Kayaknya gak ada apa-apa tuh”, aku mengangguk lantas kembali.
Kepala ku terus memikirkan hal tadi, benarkah dia masih hidup, kemana ia selama
ini, jika benar kenapa ia berada di sini. Lamunan ku bubar, pesanan kami
datang. Saat makan aku tidak berhenti memikirkan nya, Geisha menepuk dahi ku,
“Wooyy, apa yang kamu pikirin sih, Quin? Dari tadi kelihatan nya ngelamun
terus, dimakan dulu tuh”, seru nya pada ku, “Aa aa ku nge li liat diaa,
Sha”, jawab ku dengan terbata-bata. “Dia
siapa, Quin?”, ia bertanya dengan penuh rasa penasaran, “Dia dia, Sha, Ditra”,
jawab ku kembali, “Hah... Apa, Ditra???”, aku mengangguk tertunduk. Entah
perasaan ku sekarang bagaimana diantara bahagia, kaget gak nyangka karena dia
kembali tapi apa itu benar diri nya, Ditra.
Setelah selesai makan Geisha masih saja menanyakan tentang apa yang
aku lihat tadi. Aku hanya diam tanpa kata dengan terus memikirkan hal itu, aku
berusaha untuk tidak memikirkannya tetapi banyak pertanyaan itu muncul di benak
ku terlebih lagi Geisha terus saja menanyaiku akan kebeneran hal itu.
Tubuh ku jatuh ke pelukan kasur lembut yang berada di kamar ku, tubuh
ku terasa dipijat dan selalu membuat ku nyaman saat sedang tidur. Saat aku
ingin mulai memejamkan mata, waktu nya diriku untuk berpetualang di dunia
khayalan, tiba-tiba kejadian sore tadi terlintas dalam pikiran ku, aku kembali
memikirkan kebenaran akan apa yang aku lihat. Diri ku terasa lelah karena terus
memikirkan nya dan itu membuat rasa kantuk ku menghampiri diriku. Tak terasa
mata ku terpejam dengan sendirinya.
Pagi yang indah. Ku buka tirai jendela, hamparan lautan awan
menyambutku dengan senyuman. Mentari pagi menyinari ruangan kecil milik ku. Jam
dinding menunjukkan pukul 05.45 waktu Prancis. Langkah kaki ku menuju dapur
kecil yang selalu tertata rapi, air berjatuhan ke dalam tabung kaca yang telah
ku ambil tadi. Segar rasa nya menikmati indah nya pagi setelah keluar dari
negeri khayalan dan minum segelas air putih. Ku jatuhkan diriku di kursi kecil
berlapis busa yang lembut dan menyalakan televisi, menonton acara favorit ku.
Jam kuliah ku masih lama sekitar empat jam yang akan datang untuk itu aku bisa
bersantai menikmati pagi. Pagi ini pikiranku masih fresh aku belum mau
memikirkan tentang kemarin, ku langkahkan kaki ku ke arah pintu keluar, ku
berniat menyapa tetangga, ku buka pintu itu dan melihat ke sekeliling ternyata
masih sepi tetapi aku melihat benda seperti kotak kado di depan pintu kamar ku
dengan bertuliskan nama ku. Dengan rasa penasaran aku membuka kotak tersebut,
kotak itu berisikan setangkai bunga mawar merah dan sebuah kertas. Ku ambil
bunga itu dan membaca coretan tinta hitam tersebut, coretan itu dalam bahasa
Prancis yang bertuliskan ‘Bonjour Mademoiselle Aff’. Seketika kotak itu
terlepas dari tangan ku dan terjatuh, aku terkejut setelah membacanya lebih
lagi di bawah tulisan itu tertera tanda tangan nya dan sebutan yang biasa ku
gunakan untuk memanggilnya.
Aku berlari keluar kamar, melihat di sekitaran dari depan pintu,
lihat kanan-kiri tapi tak ada siapaun kecuali penghuni kamar lain, aku mencoba
melihat ke balkon berharap dia masih di sekitar sini tapi tetap tak ada, ku
bertanya pada penghuni kamar lain tapi mereka tetap saja tak mengetahuinya. Aku
kembali dan tertunduk di lantai kamar ku, pertanyaan-pertanyaan itu kembali
muncul dalam pikiran ku. Aku tak tahu apa maksud dia tetapi jika benar itu dia
aku sangat senang sekali, selama ini aku memang merindukan dia tetapi kemana ia
menghilang selama ini.
Segera ku kemasi benda-benda itu kedalam kotak nya lagi, aku segera
bergegas mandi dan menuju kamar Geisha yang berada di dua lantai di atas ku.
Saat di kamar Geisha langsung saja ku keluarkan kotak itu dan
menunjukkan nya pada Geisha. Ia membuka nya lantas membaca secarik kertas
terebut. Sama hal nya seperti ku, ia pun terkejut saat membacanya. “Kamu dapet
darimana ini Quin?”, ia bertanya pada ku, aku hanya menggeleng kepala tanda tak
tahu. Walaupun Geisha tak pernah kenal Ditra tetapi ia yakin bahwa yang
mengirim kotak itu memang benar, Ditra, ia percaya dari menyimpulkan penjelasan
singkat ku tentang tanda tangannya dan nama sebutan itu. Aku juga berpikiran
sama seperti Geisha bahwa itu memang dia pasalnya aku begitu familiar dengan
tanda tangan dan sebutan itu karena sebutan itu aku sendiri yang membuatnya dan
tidak banyak orang yang mengetahuinya.
Sekian lama kami memikirnya ternyata jam sudah menunjukkan pukul
09.30 yang artinya kami harus segera ke kampus agar tidak telat, segera kami
bergegas menuju kampus.
Sama hal nya di asrama, di kampus aku berharap bisa menghilangkan
pikiran ku tentang dia tetapi tetap saja seperti tidak punya rasa tanggungjawab
pikiran itu muncul seenaknya dalam benak ku dan itu membuat ku tidak konsen.
Setelah selesai mata kuliah yang terakhir, seperti biasa aku dan
Geisha pergi ke taman tetapi ternyata Geisha ada urusan terlebih dahulu jadi
lah aku berjalan sendiri ke taman. Suasana taman masih seperti biasa nya asri,
banyak di tumbuhi pohon-pohon tapi cuaca sekarang tak mendukung, lukisan Tuhan
yang biasanya berwarna biru-putih tapi sekarang berwarna gelap petanda akan
segera turun hujan.
Mata ku sedang fokus ke layar laptop dan jari-jemari ku sedang
sibuk menuangkan kalimat perkalimat yang
ada di pikiran ku. Tiba-tiba ada benda seperti tangan yang menyentuh pundak ku
dan berkata “Aff”, aku terdiam sejenak bibir ku tak bisa berkata, suara itu,
aku sangat mengenali nya, aku hafal sekali akan suara lembut agak nge-bass itu.
Aku menoleh ke arah suara itu dan mata ku terbelalak melihat wajah itu. Wajah
yang sudah dua tahun ini aku tidak bisa melihatnya secara langsung, wajah yang
selalu ku rindukan kehadirannya. Mata ku bekaca-kaca melihat wajah itu, memang
wajah nya sedikit berubah, wajahnya dipenuhi rambut halus hingga menutupi dagu
nya tapi aku tetap mengenalinya, mata sipit dengan bola mata cokelat kehitaman.
Aku tak pernah lupa wajah itu. Ditra, kau kembali.
Aku mencoba berdiri dan menghadap ke arahnya walaupun tubuh ku
masih kaku dan tak bisa berkata. Kaki ku bergerak melangkah ke arah dia
berdiri, dia mengeluarkan senyum andalan nya kepada ku, hal itu lantas membuat
ku semakin tak bisa berkata, entah apa yang harus ku lakukan. Tangan ku dengan
sendiri nya menyentuh wajah nya, mencoba menerka apakah dia benar-benar seorang
yang ku rindukan selama ini, wajah nya masih sama tetapi ada sedikit goresan di
dekat pelipisnya. Ku lihat tangan nya, sama seperti wajahnya di bagian tangan
nya pun terdapat garis panjang bekas luka tapi sudah tertutup dengan kulit.
Tubuh ku bergerak mendekat dengan sendiri nya dan mendekapnya erat. Air mata ku
seketika tumpah tak kuasa ku menahan nya. Diriku seperti tidak mau kehilangan
dia untuk kedua kalinya, ku dekap ia semakin erat. Air mata ku terus mengalir,
dengan tebata ku bertanya “Kemana kamu selama ini, Traff”.
Aku memanggil Ditra dengan sebutan ‘Traff’, sebutan itu ku buat
sendiri dengan gabungan nama nya dan nama ku. Dia selalu suka saat aku
memanggil nya begitu jadi panggilan itu sudah jadi kebiasaan.
Ditra mencoba melepaskan dekapan ku, ia memandang ku dengan
senyuman itu dan mencoba menghapus air mata yang tak bisa berhenti berjatuhan.
Ia menarik tangan ku menyuruhku untuk duduk.
Ia menceritakan seluruh kejadian yang menimpa nya saat itu hingga
bagaimana ia bisa sampai di sini. Berkat itu aku jadi mengerti bagaimana ia
bisa kesini, ternyata ia sengaja menyusul ku ke Prancis karena ingin
menunjukkan jika dirinya masih ada untuk ku.
Geisha sudah mengetahui hal
ini karena ia ku beritahu jika aku sedang bersama Ditra. Ia hanya berpesan,
jangan lupa ceritakan semua padanya.
Aku mengajak nya pergi makan, saat berjalan aku tak ingin
melepaskan genggaman tangan ku pada nya, aku sangat rindu pada nya, seorang
lelaki yang dua tahun lalu tidak ada kabar tentang nya setelah kecelakaan besar
menimpanya. Ku pikir ia akan menjadi masa lalu ku. Sekarang ia telah kembali
untuk ku, untuk memenuhi janji nya dulu yang tak akan pernah menghilang dari
ku. Khayalan-khayalan ku tentang dirimu yang menggapmu masih ada tidak sia-sia,
sekarang kau benar-benar ada untuk ku. Terima kasih atas perjuangan mu untuk
kembali pada ku, untuk menghiasi dan menemani hari-hari ku, Traff.
Masa lalu tidak sepenuhnya harus dilupakan tapi ingatlah sedikit
dan carilah kesalahan nya agar kau tak kembali ke lubang yang sama.
Masa lalu ku telah kembali.