Translate

Selasa, 10 Januari 2017

Masa Lalu Telah Kembali

Masa Lalu Telah Kembali


N
ama ku Chassaff Quinsha. Aff sebutan ku tetapi teman-teman ku biasa memanggil dengan nama ‘Quin’ karena mereka bilang wajah ku yang cantik bak seorang ratu, berlebihan memang tapi aku syukuri saja. Saat ini aku kuliah di salah satu universitas terkenal di Prancis semester empat.
Sudah hampir dua tahun ku meninggalkan kota Yogyakarta tercinta dengan banyak alasan salah satunya karena aku lebih memilih melanjutkan kuliah di Prancis yaitu pendididikan nya yang terjamin. Sudah hampir dua tahun juga ku tak bisa melupakannya, orang yang ku sayang hilang entah kemana setelah kecelakaan menimpanya. Tim investigasi tidak bisa menumukan jasad nya, ia diduga hilang hayut di sungai karena memang saat itu aliran sungai sedang deras. Perasaan bersalah selalu menyelimuti ku, jika saja aku tidak mengajak nya bertemu pasti hal itu tidak terjadi pada nya, “kenapa kamu mengajak nya pergi aff” “kenapa kau mengajak nya pergi aff, kenapaaaa”, kata-kata itu selalu muncul di benak ku seolah ada seseorang yang membisikkan nya pada ku. Pada malam itu tak ku sangka, pertemuan itu menjadi pertemuan terakhir ku dengan nya, aku selalu menyesali pertemuan itu pertemuan terakhir yang membuat ku tidak bisa melihat senyum, canda, tawa nya untuk selamanya. Dimana kauuu.... dimanaaa??? Apakah kau sudah benar-benar tiada atau kau masih hidup tapi dimana???
“Aff”, lamunan ku buyar seketika, sahabat ku Geisha datang menghampiri ku. Dia tahu bahwa aku sedang melamun dan memikirkan hal itu lagi, dia pun berusaha menghibur ku tapi ya itu dengan gaya nya yang jahil tapi itu selalu berhasil membuat ku tersenyum kembali. Geisha memang seorang sahabat yang mengerti keadaan ku, dia juga mahasiswi yang berasal dari Indonesia sama seperti ku jadi kalau aku cerita ke dia tidak harus susah memakai bahasa Prancis, hehe. Tetapi satu yang tidak terlalu ku sukai dalam dirinya, ia selalu memanggil ku dengan nama ‘Aff’ jika ia melihat ku sedang melamun, yah semenjak aku kehilangan nya aku lebih suka dipanggil ‘Quin’ daripada ‘Aff’, karena nama itu selalu membuat ku teringat padanya.
Kami selalu duduk berdua di sudut taman kota Paris, memandang indah nya lukisan Tuhan dan berharap ia kembali. Langit berwarna orange pertanda hari esok akan segera tiba, kami masih sibuk menertawakan kejadian tadi siang di kampus yang menimpa teman sekelas ku, dia beniat melemparkan botol ke arah aku dan Geisha tapi tiba-tiba dosen kami muncul, Mr. Alfonse, kami langsung saja kabur dan tak tahu nasib nya bagaimana. Sudah puas kami menertawakan nya, perut Geisha berbunyi merdu, ia mengajak ku makan sebelum kembali ke asrama.
Saat kaki ku melangkah memasuki sebuah rumah makan, mata ku tak sengaja melihat ke arah samping bangunan itu, aku tak percaya dengan apa yang ku lihat tetapi saat aku ingin melihat nya lagi dia sudah lenyap, ku coba mendekati sudut itu tapi benar dia sudah menghilang. Tubuh ku berdiri kaku, ‘apakah aku tidak salah lihat? dia masih hidup?’. Geisha memanggilku, “Quin! Ayo masuk! Apa yang kamu lihat? Kayaknya gak ada apa-apa tuh”, aku mengangguk lantas kembali. Kepala ku terus memikirkan hal tadi, benarkah dia masih hidup, kemana ia selama ini, jika benar kenapa ia berada di sini. Lamunan ku bubar, pesanan kami datang. Saat makan aku tidak berhenti memikirkan nya, Geisha menepuk dahi ku, “Wooyy, apa yang kamu pikirin sih, Quin? Dari tadi kelihatan nya ngelamun terus, dimakan dulu tuh”, seru nya pada ku, “Aa aa ku nge li liat diaa, Sha”,  jawab ku dengan terbata-bata. “Dia siapa, Quin?”, ia bertanya dengan penuh rasa penasaran, “Dia dia, Sha, Ditra”, jawab ku kembali, “Hah... Apa, Ditra???”, aku mengangguk tertunduk. Entah perasaan ku sekarang bagaimana diantara bahagia, kaget gak nyangka karena dia kembali tapi apa itu benar diri nya, Ditra.
Setelah selesai makan Geisha masih saja menanyakan tentang apa yang aku lihat tadi. Aku hanya diam tanpa kata dengan terus memikirkan hal itu, aku berusaha untuk tidak memikirkannya tetapi banyak pertanyaan itu muncul di benak ku terlebih lagi Geisha terus saja menanyaiku akan kebeneran hal itu.
Tubuh ku jatuh ke pelukan kasur lembut yang berada di kamar ku, tubuh ku terasa dipijat dan selalu membuat ku nyaman saat sedang tidur. Saat aku ingin mulai memejamkan mata, waktu nya diriku untuk berpetualang di dunia khayalan, tiba-tiba kejadian sore tadi terlintas dalam pikiran ku, aku kembali memikirkan kebenaran akan apa yang aku lihat. Diri ku terasa lelah karena terus memikirkan nya dan itu membuat rasa kantuk ku menghampiri diriku. Tak terasa mata ku terpejam dengan sendirinya.
Pagi yang indah. Ku buka tirai jendela, hamparan lautan awan menyambutku dengan senyuman. Mentari pagi menyinari ruangan kecil milik ku. Jam dinding menunjukkan pukul 05.45 waktu Prancis. Langkah kaki ku menuju dapur kecil yang selalu tertata rapi, air berjatuhan ke dalam tabung kaca yang telah ku ambil tadi. Segar rasa nya menikmati indah nya pagi setelah keluar dari negeri khayalan dan minum segelas air putih. Ku jatuhkan diriku di kursi kecil berlapis busa yang lembut dan menyalakan televisi, menonton acara favorit ku. Jam kuliah ku masih lama sekitar empat jam yang akan datang untuk itu aku bisa bersantai menikmati pagi. Pagi ini pikiranku masih fresh aku belum mau memikirkan tentang kemarin, ku langkahkan kaki ku ke arah pintu keluar, ku berniat menyapa tetangga, ku buka pintu itu dan melihat ke sekeliling ternyata masih sepi tetapi aku melihat benda seperti kotak kado di depan pintu kamar ku dengan bertuliskan nama ku. Dengan rasa penasaran aku membuka kotak tersebut, kotak itu berisikan setangkai bunga mawar merah dan sebuah kertas. Ku ambil bunga itu dan membaca coretan tinta hitam tersebut, coretan itu dalam bahasa Prancis yang bertuliskan ‘Bonjour Mademoiselle Aff’. Seketika kotak itu terlepas dari tangan ku dan terjatuh, aku terkejut setelah membacanya lebih lagi di bawah tulisan itu tertera tanda tangan nya dan sebutan yang biasa ku gunakan untuk memanggilnya.
Aku berlari keluar kamar, melihat di sekitaran dari depan pintu, lihat kanan-kiri tapi tak ada siapaun kecuali penghuni kamar lain, aku mencoba melihat ke balkon berharap dia masih di sekitar sini tapi tetap tak ada, ku bertanya pada penghuni kamar lain tapi mereka tetap saja tak mengetahuinya. Aku kembali dan tertunduk di lantai kamar ku, pertanyaan-pertanyaan itu kembali muncul dalam pikiran ku. Aku tak tahu apa maksud dia tetapi jika benar itu dia aku sangat senang sekali, selama ini aku memang merindukan dia tetapi kemana ia menghilang selama ini.
Segera ku kemasi benda-benda itu kedalam kotak nya lagi, aku segera bergegas mandi dan menuju kamar Geisha yang berada di dua lantai di atas ku.
Saat di kamar Geisha langsung saja ku keluarkan kotak itu dan menunjukkan nya pada Geisha. Ia membuka nya lantas membaca secarik kertas terebut. Sama hal nya seperti ku, ia pun terkejut saat membacanya. “Kamu dapet darimana ini Quin?”, ia bertanya pada ku, aku hanya menggeleng kepala tanda tak tahu. Walaupun Geisha tak pernah kenal Ditra tetapi ia yakin bahwa yang mengirim kotak itu memang benar, Ditra, ia percaya dari menyimpulkan penjelasan singkat ku tentang tanda tangannya dan nama sebutan itu. Aku juga berpikiran sama seperti Geisha bahwa itu memang dia pasalnya aku begitu familiar dengan tanda tangan dan sebutan itu karena sebutan itu aku sendiri yang membuatnya dan tidak banyak orang yang mengetahuinya.
Sekian lama kami memikirnya ternyata jam sudah menunjukkan pukul 09.30 yang artinya kami harus segera ke kampus agar tidak telat, segera kami bergegas menuju kampus.
Sama hal nya di asrama, di kampus aku berharap bisa menghilangkan pikiran ku tentang dia tetapi tetap saja seperti tidak punya rasa tanggungjawab pikiran itu muncul seenaknya dalam benak ku dan itu membuat ku tidak konsen.
Setelah selesai mata kuliah yang terakhir, seperti biasa aku dan Geisha pergi ke taman tetapi ternyata Geisha ada urusan terlebih dahulu jadi lah aku berjalan sendiri ke taman. Suasana taman masih seperti biasa nya asri, banyak di tumbuhi pohon-pohon tapi cuaca sekarang tak mendukung, lukisan Tuhan yang biasanya berwarna biru-putih tapi sekarang berwarna gelap petanda akan segera turun hujan.
Mata ku sedang fokus ke layar laptop dan jari-jemari ku sedang sibuk menuangkan  kalimat perkalimat yang ada di pikiran ku. Tiba-tiba ada benda seperti tangan yang menyentuh pundak ku dan berkata “Aff”, aku terdiam sejenak bibir ku tak bisa berkata, suara itu, aku sangat mengenali nya, aku hafal sekali akan suara lembut agak nge-bass itu. Aku menoleh ke arah suara itu dan mata ku terbelalak melihat wajah itu. Wajah yang sudah dua tahun ini aku tidak bisa melihatnya secara langsung, wajah yang selalu ku rindukan kehadirannya. Mata ku bekaca-kaca melihat wajah itu, memang wajah nya sedikit berubah, wajahnya dipenuhi rambut halus hingga menutupi dagu nya tapi aku tetap mengenalinya, mata sipit dengan bola mata cokelat kehitaman. Aku tak pernah lupa wajah itu. Ditra, kau kembali.
Aku mencoba berdiri dan menghadap ke arahnya walaupun tubuh ku masih kaku dan tak bisa berkata. Kaki ku bergerak melangkah ke arah dia berdiri, dia mengeluarkan senyum andalan nya kepada ku, hal itu lantas membuat ku semakin tak bisa berkata, entah apa yang harus ku lakukan. Tangan ku dengan sendiri nya menyentuh wajah nya, mencoba menerka apakah dia benar-benar seorang yang ku rindukan selama ini, wajah nya masih sama tetapi ada sedikit goresan di dekat pelipisnya. Ku lihat tangan nya, sama seperti wajahnya di bagian tangan nya pun terdapat garis panjang bekas luka tapi sudah tertutup dengan kulit. Tubuh ku bergerak mendekat dengan sendiri nya dan mendekapnya erat. Air mata ku seketika tumpah tak kuasa ku menahan nya. Diriku seperti tidak mau kehilangan dia untuk kedua kalinya, ku dekap ia semakin erat. Air mata ku terus mengalir, dengan tebata ku bertanya “Kemana kamu selama ini, Traff”.
Aku memanggil Ditra dengan sebutan ‘Traff’, sebutan itu ku buat sendiri dengan gabungan nama nya dan nama ku. Dia selalu suka saat aku memanggil nya begitu jadi panggilan itu sudah jadi kebiasaan.
Ditra mencoba melepaskan dekapan ku, ia memandang ku dengan senyuman itu dan mencoba menghapus air mata yang tak bisa berhenti berjatuhan. Ia menarik tangan ku menyuruhku untuk duduk.
Ia menceritakan seluruh kejadian yang menimpa nya saat itu hingga bagaimana ia bisa sampai di sini. Berkat itu aku jadi mengerti bagaimana ia bisa kesini, ternyata ia sengaja menyusul ku ke Prancis karena ingin menunjukkan jika dirinya masih ada untuk ku.
 Geisha sudah mengetahui hal ini karena ia ku beritahu jika aku sedang bersama Ditra. Ia hanya berpesan, jangan lupa ceritakan semua padanya.
Aku mengajak nya pergi makan, saat berjalan aku tak ingin melepaskan genggaman tangan ku pada nya, aku sangat rindu pada nya, seorang lelaki yang dua tahun lalu tidak ada kabar tentang nya setelah kecelakaan besar menimpanya. Ku pikir ia akan menjadi masa lalu ku. Sekarang ia telah kembali untuk ku, untuk memenuhi janji nya dulu yang tak akan pernah menghilang dari ku. Khayalan-khayalan ku tentang dirimu yang menggapmu masih ada tidak sia-sia, sekarang kau benar-benar ada untuk ku. Terima kasih atas perjuangan mu untuk kembali pada ku, untuk menghiasi dan menemani hari-hari ku, Traff.
Masa lalu tidak sepenuhnya harus dilupakan tapi ingatlah sedikit dan carilah kesalahan nya agar kau tak kembali ke lubang yang sama. 

Masa lalu ku telah kembali.